Pada Setiap Nafas Lagu, Terselip Cahaya Kekekalan
Selain semua niat itu, aku juga ingin melatih keberanian untuk melangkah lebih jauh dalam pelayanan. Aku sadar bahwa setiap kesempatan bernyanyi bukan sekadar tugas, tetapi undangan Tuhan untuk bertumbuh. Karena itu, aku ingin belajar membuka diriku lebih luas berani memimpin pemanasan suara, berani mencoba nada yang lebih tinggi, dan berani tampil meski kadang masih gugup. Aku ingin menjadikan setiap pelayanan seperti perjalanan kecil menuju versi diriku yang lebih baik. Tidak harus sempurna, tetapi selalu tulus. Dan mungkin, lewat langkah-langkah kecil itu, Tuhan sedang membentukku menjadi seseorang yang bisa membawa damai dan sukacita, tidak hanya lewat suara, tapi juga lewat kehadiranku.
Perjalanan menuju Gereja Kemuning lumayan tenang. Hanya terdengar lagu yang diputar di mobil dan suara ringan dari orang tuaku yang saling mengobrol. Pikiran ku melayang melihat pepohonan dan cahaya matahari pagi yang menembus jendela. Rasanya seperti sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang indah. Saat sampai, aku menarik napas panjang sebelum masuk ke gereja. Ruangannya teduh, dan begitu aku bernyanyi untuk lagu pertama, rasanya suara kami menembus setiap sudut ruangan. Ada damai yang sulit dijelaskan. Suara yang keluar bukan cuma nada, tapi seperti doa yang melayang ke atas. Setiap lagu yang kami nyanyikan membuatku merasa semakin dekat dengan Tuhan dan jemaat.
Setelah misa selesai, kami berkumpul sebentar untuk berdoa dan mengevaluasi diri. Ada rasa lega, bangga, dan syukur karena pelayanan hari itu berjalan lancar. Kami pulang dengan hati hangat meski tubuh mulai lelah. Hari itu berakhir dengan perasaan bahwa kami telah memberikan sesuatu yang berarti.
Dari pengalaman di Kemuning dan Melania, aku belajar banyak tentang rendah hati dan melayani dengan tulus. Aku sadar bahwa dalam pelayanan, yang terpenting bukanlah pujian dari orang lain, tetapi hati yang mau dipakai Tuhan. Saat bernyanyi, aku merasakan damai yang tidak bisa dijelaskan, seolah Tuhan mengingatkanku untuk melayani tanpa berharap imbalan apa pun. Rasanya seperti menjadi bagian kecil dari karya Tuhan untuk membawa ketenangan kepada jemaat.
Pengalaman dua hari pelayanan ini membuatku semakin mengerti arti setia dalam tugas kecil. Meski lelah, aku merasa panggilan ini adalah kesempatan untuk memberi kembali kepada Tuhan. Aku belajar bahwa bernyanyi dalam padua suara bukan hanya aktivitas sekolah, tetapi juga cara melakukan kehendak-Nya dengan sederhana. Aku merasa pelayanan ini menguatkan imanku dan membentuk sikapku untuk menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.
sebagai anggota paduan suara, kita bukan cuma bernyanyi, tapi juga membawa suasana ibadah supaya umat bisa merasakan kehadiran Tuhan lewat suara yang kita persembahkan. pelayanan ini butuh hati yang tulus, penuh sukacita, dan kemauan untuk memuliakan Tuhan lewat talenta yang diberikan kepada kita. sikap ini sama seperti yang ditunjukkan oleh Bunda Maria ketika ia menaikkan pujian kepada Tuhan dengan sepenuh hatinya. ia mengajarkan bahwa memuji Tuhan bukan hanya soal suara, tapi soal hati yang bersyukur dan rela dipakai untuk karya-Nya. hal inilah yang ingin kita bawa dalam pelayanan paduan suara yang akan kita laksanakan nanti.
seperti yang tertulis dalam Lukas 1:46–47,
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
Dari pengalaman ini, aku ingin melangkah lebih jauh. Aku ingin memperbaiki kedisiplinanku datang latihan tepat waktu, mempersiapkan suara, dan menjaga tubuhku agar tetap sehat untuk bernyanyi. Aku ingin terus mengasah kemampuanku, bukan untuk dipuji, tetapi supaya aku bisa melayani dengan hati yang lebih tulus. Menjadi bagian dari paduan suara membuatku sadar bahwa menyanyi bukan hanya soal nada yang tepat, tetapi juga soal kesiapan hati.
Selain itu, aku ingin membawa sikap pelayanan ini ke kehidupan sehari-hari. Aku ingin belajar berbicara lebih lembut, lebih sabar menunggu, dan lebih peka kepada teman-teman yang membutuhkan bantuan. Pelayanan membuatku mengerti bahwa hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesetiaan pun bisa menjadi doa yang hidup. Jika Bunda Maria bisa berkata "ya" untuk hal besar, aku ingin belajar berkata "ya" untuk hal kecil yang Tuhan percayakan padaku setiap hari.
Pelayanan di Gereja Kemuning kali ini bukan hanya tentang satu misa. Bagiku, ini adalah langkah kecil menuju kedewasaan iman langkah yang mengajarkanku arti taat, arti memberikan yang terbaik, dan arti melayani dengan rendah hati. Dalam setiap lagu yang kami nyanyikan, aku merasa Tuhan sedang mengajakku untuk lebih setia dan lebih siap untuk dipakai dalam karya-Nya. Dan ketika aku berdiri di depan umat, aku menyadari betapa berharganya kepercayaan itu.
Selain semua itu, aku ingin melatih keberanianku dalam pelayanan. Aku ingin berani mencoba hal baru memimpin pemanasan suara, menyanyi bagian yang lebih sulit, atau tampil meski gugup. Aku ingin tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya bernyanyi dengan suara, tapi juga membawa damai lewat kehadiran. Setiap kesempatan bernyanyi adalah perjalanan kecil menuju versi diriku yang lebih baik, dan aku ingin melangkahinya dengan hati yang penuh syukur.
Melalui pengalaman pelayanan ini, aku belajar bahwa melayani bukan hanya kegiatan, tetapi perjalanan batin. Ini tentang membuka hati, memperbaiki diri, dan belajar mencintai hal-hal kecil yang Tuhan titipkan. Paduan suara bukan hanya membuatku bernyanyi lebih baik, tapi juga membuatku menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih peka. Jika suatu hari Tuhan memintaku bernyanyi lagi, aku ingin menjawab dengan damai: “Tuhan, aku siap. Pakailah aku untuk karya-Mu.”







Tidak ada komentar:
Posting Komentar