Kamis, 27 November 2025

Saint Mary's Way

 The Morning We Sang With Our Hearts

  Last month, I had one of the most memorable experiences of my school year: joining the choir performance at Gereja Kemuning with my teachers and friends. At first, I didn’t expect it to be anything special. I thought it would just be another school activity, something we did because we were told to. But I soon realized that it was more than that. It was a journey full of practice, laughter, stress, excitement, and moments that I will probably remember for a long time. This experience didn’t just teach me how to sing better; it also taught me how to work together, be responsible, and appreciate small moments that feel big. 

 Our journey started with practice sessions after school. We would gather in the music room, sitting in rows while our teacher arranged the harmony. At first, our voices sounded so messy some of us were too loud, some too soft, and some didn’t even know when to start. But instead of getting frustrated, our teacher would laugh and say, “It’s okay, we’ll get better!” Little by little, we did. We learned how to breathe properly, how to match each other’s tone, and how to follow the beat without rushing. Sometimes we got tired and sleepy, but practicing with friends made everything more fun. We joked around, shared snacks, and sometimes practiced the same song over and over until it finally felt right.
 
  The night before the performance, I felt strangely nervous. I set an alarm for very early in the morning, afraid that I might oversleep and ruin everything. I laid out my clothes, prepared my shoes, and practiced the song again quietly before going to bed. Even though I tried to sleep early, my mind kept repeating the melody and imagining what the next day would be like. Would we sing well? Would we forget the lyrics? Eventually, I fell asleep with all those thoughts still swirling in my head.

  The morning of the performance came faster than I expected. When my alarm rang, it felt like I had only slept for five minutes. I dragged myself out of bed, washed my face, and prepared my things. Even though I was sleepy, I felt excited. The sky was still a little dark, and the air was cold, but it felt refreshing llike the beginning of a special day. When I arrived at school, my friends were already gathering. Some looked fresh, some looked half asleep, and some were still practicing their parts softly. Our teacher reminded us to stay calm, drink water, and keep our throats warm.

 
  When we reached Church Kemuning, the atmosphere was peaceful. The church felt cool and quiet, and for a moment, I just stood there taking in the calmness. But once we entered, everything became busy. We had to set our positions, check the sound system, and rehearse one last time. The closer the performance got, the faster my heart raced. I wasn’t the only one my friends were also whispering things like, “I’m nervous,” or “Don’t mess up, okay?” Even our teacher looked a bit tense, although she tried to hide it. 

  Finally, the moment came. We stood in front of the congregation, holding our breath for a few seconds before the music started. When the first note played, something shifted. All the nervousness slowly disappeared, replaced by a warm, steady feeling. We sang together, our voices blending like we had practiced so many times. I could see some people in the audience smiling, and that made me feel even braver. For a moment, it didn’t feel like performing it felt like praying through music. And honestly, it was beautiful.

 When the last song ended, we looked at each other and quietly smiled. We did it. All the practice, all the early mornings, all the worries yhey were worth it. Even our teacher had tears in her eyes, though she quickly wiped them away.

  Looking back, joining the choir at Gereja Kemuning was one of the best decisions I made this year. It taught me that good things don’t come instantly ythey come from effort, teamwork, and a little bit of courage. I learned how to trust myself, support my friends, and appreciate the feeling of creating something beautiful together. This experience also made me realize that singing isn’t just about hitting the right notes; it’s about sharing emotion, offering something sincere, and letting your voice carry meaning.

  If I ever get the chance to join another performance, I won’t hesitate. I would love to build new memories, face new challenges, and feel that same excitement again. For me, this choir experience wasn’t just an activity it was a step in growing up, and a reminder that sometimes, the most meaningful moments come from the simplest things. 

    My experience as a choir member at Gereja Kemuning was truly meaningful and unforgettable. I joined the church choir to serve during a Sunday worship, and at first I felt nervous because it was my first time singing together with many people in front of the congregation. However, as we practiced and sang the hymns, I felt peace, joy, and a strong sense of togetherness. The choir leader guided us patiently, and everyone supported one another. Through this experience, I learned that serving God requires discipline, cooperation, and humility. From this activity, I gained important values of faith such as commitment in worship, gratitude for the opportunity to serve, and trust in God. Singing together in the choir strengthened my faith and reminded me that serving God with sincerity can bring spiritual growth and inner peace.




Senin, 24 November 2025

Saint Mary's Way

Pada Setiap Nafas Lagu, Terselip Cahaya Kekekalan


   Selain semua niat itu, aku juga ingin melatih keberanian untuk melangkah lebih jauh dalam pelayanan. Aku sadar bahwa setiap kesempatan bernyanyi bukan sekadar tugas, tetapi undangan Tuhan untuk bertumbuh. Karena itu, aku ingin belajar membuka diriku lebih luas berani memimpin pemanasan suara, berani mencoba nada yang lebih tinggi, dan berani tampil meski kadang masih gugup. Aku ingin menjadikan setiap pelayanan seperti perjalanan kecil menuju versi diriku yang lebih baik. Tidak harus sempurna, tetapi selalu tulus. Dan mungkin, lewat langkah-langkah kecil itu, Tuhan sedang membentukku menjadi seseorang yang bisa membawa damai dan sukacita, tidak hanya lewat suara, tapi juga lewat kehadiranku.


  Perjalanan menuju Gereja Kemuning lumayan tenang. Hanya terdengar lagu yang diputar di mobil dan suara ringan dari orang tuaku yang saling mengobrol. Pikiran ku melayang melihat pepohonan dan cahaya matahari pagi yang menembus jendela. Rasanya seperti sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang indah. Saat sampai, aku menarik napas panjang sebelum masuk ke gereja. Ruangannya teduh, dan begitu aku bernyanyi untuk lagu pertama, rasanya suara kami menembus setiap sudut ruangan. Ada damai yang sulit dijelaskan. Suara yang keluar bukan cuma nada, tapi seperti doa yang melayang ke atas. Setiap lagu yang kami nyanyikan membuatku merasa semakin dekat dengan Tuhan dan jemaat.

  Setelah misa selesai, kami berkumpul sebentar untuk berdoa dan mengevaluasi diri. Ada rasa lega, bangga, dan syukur karena pelayanan hari itu berjalan lancar. Kami pulang dengan hati hangat meski tubuh mulai lelah. Hari itu berakhir dengan perasaan bahwa kami telah memberikan sesuatu yang berarti.

 - Refleksi Sikap Hati
Dari pengalaman di Kemuning dan Melania, aku belajar banyak tentang rendah hati dan melayani dengan tulus. Aku sadar bahwa dalam pelayanan, yang terpenting bukanlah pujian dari orang lain, tetapi hati yang mau dipakai Tuhan. Saat bernyanyi, aku merasakan damai yang tidak bisa dijelaskan, seolah Tuhan mengingatkanku untuk melayani tanpa berharap imbalan apa pun. Rasanya seperti menjadi bagian kecil dari karya Tuhan untuk membawa ketenangan kepada jemaat.

 
 - Nilai Setia dan Melakukan Kehendak Allah
Pengalaman dua hari pelayanan ini membuatku semakin mengerti arti setia dalam tugas kecil. Meski lelah, aku merasa panggilan ini adalah kesempatan untuk memberi kembali kepada Tuhan. Aku belajar bahwa bernyanyi dalam padua suara bukan hanya aktivitas sekolah, tetapi juga cara melakukan kehendak-Nya dengan sederhana. Aku merasa pelayanan ini menguatkan imanku dan membentuk sikapku untuk menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.

 sebagai anggota paduan suara, kita bukan cuma bernyanyi, tapi juga membawa suasana ibadah supaya umat bisa merasakan kehadiran Tuhan lewat suara yang kita persembahkan. pelayanan ini butuh hati yang tulus, penuh sukacita, dan kemauan untuk memuliakan Tuhan lewat talenta yang diberikan kepada kita. sikap ini sama seperti yang ditunjukkan oleh Bunda Maria ketika ia menaikkan pujian kepada Tuhan dengan sepenuh hatinya. ia mengajarkan bahwa memuji Tuhan bukan hanya soal suara, tapi soal hati yang bersyukur dan rela dipakai untuk karya-Nya. hal inilah yang ingin kita bawa dalam pelayanan paduan suara yang akan kita laksanakan nanti.

seperti yang tertulis dalam Lukas 1:46–47,
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”


   Dari pengalaman ini, aku ingin melangkah lebih jauh. Aku ingin memperbaiki kedisiplinanku datang latihan tepat waktu, mempersiapkan suara, dan menjaga tubuhku agar tetap sehat untuk bernyanyi. Aku ingin terus mengasah kemampuanku, bukan untuk dipuji, tetapi supaya aku bisa melayani dengan hati yang lebih tulus. Menjadi bagian dari paduan suara membuatku sadar bahwa menyanyi bukan hanya soal nada yang tepat, tetapi juga soal kesiapan hati.
   
 
  Selain itu, aku ingin membawa sikap pelayanan ini ke kehidupan sehari-hari. Aku ingin belajar berbicara lebih lembut, lebih sabar menunggu, dan lebih peka kepada teman-teman yang membutuhkan bantuan. Pelayanan membuatku mengerti bahwa hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesetiaan pun bisa menjadi doa yang hidup. Jika Bunda Maria bisa berkata "ya" untuk hal besar, aku ingin belajar berkata "ya" untuk hal kecil yang Tuhan percayakan padaku setiap hari.

  Pelayanan di Gereja Kemuning kali ini bukan hanya tentang satu misa. Bagiku, ini adalah langkah kecil menuju kedewasaan iman langkah yang mengajarkanku arti taat, arti memberikan yang terbaik, dan arti melayani dengan rendah hati. Dalam setiap lagu yang kami nyanyikan, aku merasa Tuhan sedang mengajakku untuk lebih setia dan lebih siap untuk dipakai dalam karya-Nya. Dan ketika aku berdiri di depan umat, aku menyadari betapa berharganya kepercayaan itu.
 
 
   Selain semua itu, aku ingin melatih keberanianku dalam pelayanan. Aku ingin berani mencoba hal baru memimpin pemanasan suara, menyanyi bagian yang lebih sulit, atau tampil meski gugup. Aku ingin tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya bernyanyi dengan suara, tapi juga membawa damai lewat kehadiran. Setiap kesempatan bernyanyi adalah perjalanan kecil menuju versi diriku yang lebih baik, dan aku ingin melangkahinya dengan hati yang penuh syukur.


Melalui pengalaman pelayanan ini, aku belajar bahwa melayani bukan hanya kegiatan, tetapi perjalanan batin. Ini tentang membuka hati, memperbaiki diri, dan belajar mencintai hal-hal kecil yang Tuhan titipkan. Paduan suara bukan hanya membuatku bernyanyi lebih baik, tapi juga membuatku menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih peka. Jika suatu hari Tuhan memintaku bernyanyi lagi, aku ingin menjawab dengan damai: “Tuhan, aku siap. Pakailah aku untuk karya-Mu.”